Tentang Black Out PLN, Berikut Surat Terbuka HAIDAR ALWI Kepada PRESIDEN RI

2
20
Spread the love

[Foto: Haidar Alwi, Istimewah.Dok]

TEMPO|Jakarta–  Mengenai Padamnya listrik tempo lalu di berbagai daerah di Indonesia, apalagi Ibukota negara sebagai barometer ikut mengalami hal tersebut, sejatinya sangat miris dan kecewa dirasakan seluruh masyarakat yang mengalaminya, karena berdampak kerugian pada beberepa sektor karena listrik saat ini adalah kebutuhan dasar.

Haidar Alwi selaku penanggungjawab Aliansi Relawan Jokowi(ARJ) seorang Alumni S1 dan S2 Teknik Elektro ITB, Alumnus GE Schenectady New York, Bidang Pembangkit, memberikan penjelasannya dalam surat terbukanya pada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Berikut isi surat terbuka yang disampaikannya

Pada hari Minggu (4/8/2019) siang, terjadi pemadaman listrik (black out) di wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Adapun pemadaman listrik secara serentak hingga malam hari terjadi karena gangguan sistem transmisi Ungaran-Pemalang.

.
Gangguan sistem transmisi Ungaran-Pemalang membuat aliran listrik di dua sirkuit tersebut turun drastis yang kerap disebut dengan istilah N minus 2. Kemudian, turun drastisnya listrik juga memengaruhi sirkuit Depok-Tasikmalaya sehingga kejadian ini disebut N minus 3.
.
Adanya perubahan beban secara tiba-tiba akan mengakibatkan perubahan kestabilaan pada sistem. Salah satunya adalah perubahan kestabilan frekuensi sistem.
.
Frekuensi akan naik apabila pembangkit menghasilkan daya yang lebih besar dari pada permintaan beban dan sebaliknya, frekuensi akan turun bila pembangkit menghasilkan daya yang lebih kecil dibandingkan dengan permintaan beban.
.
Apabila penurunan frekuensi tidak segera ditanggulangi maka akan menyebabkan sistem tersebut mengalami pemadaman total (black out).
.
Salah satu tindakan yang harus dilakukan untuk menanggulangi turunnya frekuensi adalah dengan melakukan pelepasan beban (load shedding) yang diharapkan dapat memulihkan frekuensi dengan cepat dan jumlah beban yang dilepaskan se-minimal mungkin. Secara teknis, black out tidak akan terjadi andai saja “Load Shedding” berjalan dengan baik.
.
Seperti kita ketahui bahwa terdapat  2 jalur di Utara dan 2 jalur di Selatan. Sehingga ketika Utara down, tidak lama kemudian Selatan juga down. Seharusnya kalau satu down, ada yang bisa handle. Begitu keduanya down, frekuensi turun, Suralaya 6 unit 3 ribu Mega, lepas, load shedding-nya kelamaan, boiler batubaranya terlanjur dingin, karenanya untuk re-start kembali perlu waktu sehingga penanganan jadi lambat.
.
Hal-hal teknis semacam ini pasti sangat dipahami oleh PLN. Namun, sepanjang pengamatan dan analisis saya, terdapat hal lain yang sangat fundamental dan sangat berpengaruh.
.
Saya melihat dari kacamata lain, bahwa lima tahun kepemimpinan Pak Sofyan Basir itu PLN murni diarahakan menjadi perusahaan yang profit oriented, harus untung. Sehingga apa yang terjadi? Semua orang itu fokusnya bagaimana menekan cost dan bagaimana menarik keuntungan sebesar-besarnya. Untuk sebuah korporasi itu hal bagus. Namun jangan lupa bahwa PLN itu adalah dilindungi UU sebagai satu-satunya perusahaan yang mengaliri listrik seluruh republik ini dan punya public service obligation.
.
Profit adalah satu hal. Tapi reliability, keandalan menjaga performance, menjaga jaminan supply kepada seluruh sendi-sendi republik ini, itu menjadi hal yang sangat krusial karena ketergantungan ekonomi, sosial dan sebagainya itu ada di pundak PLN.
.
Nah, selama lima tahun itu, di setiap rapat direksi, di setiap teleconference itu laporan dari orang PLN ya, bukan abal-abal bahwa yang dilakukan oleh direksi di bawah pimpinan Pak Sofyan Basir itu murni adalah bagaimana kita bisa untung, biaya sana ditekan, biaya sini ditekan dan jualan berapa.
.
Jadi mayoritas pertanyaannya, region sini jualan berapa, cost-nya berapa, budget-nya berapa, tahun ini berapa dan seterusnya. Budaya itu, karena lima tahun ditekan terus, sekarang walaupun Pak Sofyan tidak di sana lagi, cara berpikir orang PLN itu masih seperti itu.
.
Menurut saya, sesuatu yang keliru untuk perusahaan seperti PLN. Kalau itu perusahaan seperti BRI, Mandiri atau apa, okelah, tidak masalah. Tapi untuk PLN tidak boleh, karena menyangkut hajat hidup orang banyak. PLN tidak boleh melulu profit, kenapa? Karena dia akan menomorduakan reliabilitas, menomorduakan keandalan, menomorduakan performance dan sebagainya.
.
Mostly, Key Performance Index (KPI) mereka hanya keuntungan. Budaya itu sampai sekarang masih terbawa. Jadi yang dilakukan PLN pokoknya jangan sampai tidak jualan atau jualannya sedikit. Ilustrasinya, walaupun mesin sudah mau mati atau butuh maintenance, yang penting jualan dulu, untung dulu, masalah maintenance belakangan.
.
Jadi dipaksakan untuk jualan walaupun saat itu harus maintenance. Itu sangat mungkin terjadi untuk perusahaan yang memikirkan atau mementingkan profit. Sehingga tidak bisa maintenance, kalau maintenance dia akan down, kalau down dia tidak bisa mengalirkan listrik, sehingga tidak ada pendapatan.
.
Jadi kadang-kadang dipaksakan. Itu bisa saja terjadi. Kemudian, yang penting lagi berikutnya, apa yang dilakukan Pak SB (Sofyan Ba’syir), selama lima tahun merubah nomenklatur direksi, direksi itu dirubah-rubah menjadi regional. Oke, mungkin itu hal yang benar kalau misalnya Sumatera yang interkoneksi dijadikan satu regional.
.
Bayangkan DKI, Banten, Jabar, Jateng, Jogja dan Jatim dipecah menjadi tiga. Apa yang terjadi? Ini sebenarnya satu regional, satu sistem Jawa dan dia interkoneksi, bahkan interkoneksi Jawa-Bali. Jadi kalau dia dipecah seperti itu, masing-masing berkompetisi. Itu sama sekali tidak sehat. Sistem itu jangan dibelah. Karena listrik kita di Jakarta bisa jadi datangnya dari Jawa Timur. Listriknya Jawa Timur bisa jadi datangnya dari Jawa Barat, Suralaya atau dari Banten.
.
Sehingga menurut saya pembagian atau dipecah-pecah seperti itu cocok untuk perusahaan seperti BRI, Mandiri dan lain sebagainya, dipecah menjadi unit bisnis – unit bisnis, menjadi perusahaan-perusahaan yang memang profit oriented . Buat PLN sangat tidak cocok, tanggungjawab perusahaan BUMN itu berbeda-beda.
.
Bayangkan Jateng harus bertanggungjawab terhadap pembangunannya, konstruksinya, penyalurannya, niaganya, cos center-nya, maintenance-nya. Padahal Jabar dan Jateng itu apa sih yang memisahkan? Tidak ada yang memisahkan. Hal-hal seperti itu, harus dirubah nomenklatur-nya. Kembalikan kepada, kalau mau dirubah regional, Jawa jangan dipisah. Jawa satu direktur boleh saja, karena Jawa dan Sumatera tidak interkoneksi. Itulah kira-kira sebab non-teknis, kalau teknisnya orang PLN banyak yang tahu.
.
Jadi lima tahun terakhir ini punya daya rusak yang menurut saya cukup besar sehingga perlu perbaikan. Roh-nya PLN itu ada di perencanaan. Direktur perencanaan ini adalah direktur yang menentukan arah ke depannya PLN ini, negara ini mau diterangi seperti apa. Kalau direktur perencanaannya orang yang nurut sama Dirut, yang bisa diintervensi, rusaklah PLN.
.
Direktur perencanaannya, Bu Sofi, hari ini  menurut saya sangat tidak capable di posisi itu. Perencanaan itu butuh orang dalam yang pernah di semua lini PLN. Dia pernah di lapangan, pernah di proyek, pernah di pembangkitan, pernah di unit, pernah di transmisi, mengerti semua detailnya dan dia harus tegas, berani mengambil keputusan. Ini baru kita prediksi dua bulan lalu bahwa akan datang bom waktu, ternyata kejadian.
.
Selain itu, Menteri Negara BUMN juga perlu bertanggungjawab karena mempertahankan Pak Sofyan Basir berlama-lama karena keasyikan dengan laporan keuangannya yang mentereng di dua tahun pertama, tiga tahun terakhir tidak mentereng. Dulu mentereng karena harga batubara masih 25 Dollar, minyak masih di bawah 30 Dollar per Barrel. Begitu batubara naik ke 100 Dollar, batubara naik ke 60-70 Dollar, tidak mentereng lagi karena memang fundamentalnya lemah.
.
Jadi, saya mengkritik bukan berarti Pak Sofyan Basir tidak punya kontribusi, tapi setiap orang tidak ada yang sempurna. Ada kesalahan fatal, sehingga sebetulnya Direktur PLN memang sebaiknya orang dalam, punya track record, mengerti teknis dan keandalan.(HG)
Editor: Arom 
Surat Terbuka HAIDAR ALWI selaku penanggungjawab ARJ Aliansi Relawan Jokowi(ARJ) seorang Alumni S1 dan S2 Teknik Elektro ITB, Alumnus GE Schenectady New York, Bidang Pembangkit

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here