Musda Partai Golkar Kota Bekasi Ialah Ajang Regenerasi dan Kaderisasi

0
8
Spread the love

(Ilustrasi Foto: Suasana Musda Partai Golkar Kota Bekasi,dok.google, Ist)

“Akankah Partai Golkar Kota Bekasi mengambil Jalan perubahan dengan kaderisasi di regenerasi di tubuh kepengurusan partai Golkar, atau tetap pada posisi Status Quo”

TEMPO| Jakarta- Jelang diselenggarakannya Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Bekasi, dinamika internal di tubuh partai Golkar Kota Bekasi kian menghangat, beberapa figur bermunculan mengajukan diri untuk menahkodai Partai Golkar Kota Bekasi untuk lima tahun ke depan seperti Zainul Miftah, Nofel Soleh Hilabi, Machrul Falah dan beberapa nama lainnya.

Isu regenerasi dan kaderisasi menguat seiring tantangan partai di masa yang akan datang akan semakin sengit, apalagi partai golkar pada pileg 2019 hanya memperoleh pada posisi ketiga setelah PKS dan PDIP.

Namun isu yang berhembus dari internal, ada wacana kembalinya, Rahmat Efendi selaku wali kota Bekasi untuk memimpin partai Golkar kembali yang notabenya menjadikannya memimpin untuk yang ke-empat kalinya.

Isu ini tak ayal lagi membuat konstalasi di internal partai Golkar Kota Bekasi terbelah menjadi dua kubu. kubu pertama yang menginginkan kepemimpina baru di tubuh Partai Golkar kota Bekasi dan kubu satunya tetap mendukung Rahmat Efendi untuk memimpin Partai Golkar Kota Bekasi kembali.

Agus Salim selaku pengamat Politik dari Pusat studi Madania berpendapat, bahwa apa yang terjadi di tubuh partai Golkar menjelang Musda dalam waktu dekat ini harus menjadi perhatian bagi seluruh kader partai Golkar.

“Bahwa Partai Golkar harus berani mengambil jalan kaderisasi dalam regenerasi kepengeurusan partai. jangan sampai Partai Golkar Kota Bekasi dianggap tidak mampu melahirkan kader-kader partai yang mumpuni bila hanya yang itu-itu saja yang memimpin,” jelas Agus dalam keterangan tertulisnya, Senin(29/06)

Masih Agus, Partai Golkar partai yang Modern, tidak bersandar pada Individu. Apalagi setelah pasca era Orde Baru dimana Partai Golkar Iddentik dengan Pak Harto, Partai Golkar adalah salah satu contoh Partai modern yang telah memiliki sistem yang kuat dan tak bertumpu pada individu.

“Maukah Partai Golkar ditinggalkan Kaum Milenial bila dianggap tak mampu memperlihatkan kepada khalayak proses kaderisasi di internalnya.”tuturnya Agus.

“Apalagi kalo saya perhatikan, kegagalan Partai Golkar di Pileg 2019 yang hanya menempati posisi ketiga setelah PKS dan PDIP dan dalam proses pembagian jatah-jatah di AKD (alat Kelengkapan DPRD) di DPRD Kota Bekasi, Partai Golkar tak satupun menempatkan Kadernya pada pimpinan Komisi dan Badan”ungkapnya agus.

Menurut agus,Ini sebagai fakta yang terang benderang bahwa kelihaian kader partai Golkar yang dikenal selama ini nyaris tak terlihat di kader Golkar yang menjadi anggota Fraksi Partai golkar di DPRD. ditambah lagi dengan persoalan Kantor Sekretariat Partai Golkar yang berada di jalan Protokol A. Yani masih bersengketa dengan salah satu pengusaha di Kota Bekasi, bahkan sempat diIklankan disewa dan dijual di salah satu aplikasi penjualan online.

“Kaderasi sebagai keharusan, malah saya kira untuk saat ini adalah kewajiban. Jalan yang harus diambil oleh keluarga besar Partai Golkar Kota Bekasi. bila Partai Golkar Kota Bekasi mau memenangkan pertarungan di Pileg 2024”tutupnya agus.

Akankah Partai Golkar Kota Bekasi mengambil Jalan perubahan dengan kaderisasi di regenerasi di tubuh kepengurusan partai Golkar, atau tetap pada posisi Status Quo.(*)

Editor redaksi: Ghasi/ Laporan: Jbg